Project Menghargai Tubuh V.1.0

1. Minum air putih minimal 1,5 liter setiap hari

2. Selalu ada sayuran hijau setiap kali makan

3. Lari di treadmill minimal 3 kali seminggu

4. Cuci muka minimal 2 kali sehari

5. Pakai night cream dan night body lotion sebelum tidur

6. SPF 50 sebelum beraktivitas setiap hari

7. Pakai vitamin rambut sehabis keramas, waktu rambut masih 1/2 kering

8. Paling maksimal 1 gelas minuman manis setiap hari. Nggak minum manis lebih baik

9. Pakai masker kalau naik kendaraan umum, masker dicuci.

10. Nggak pulang malam kalau memang nggak butuh lembur, work more effectively at office hours

11. Bayar hutang tidur setiap hari Sabtu

12. Sempatkan diri untuk maskeran setiap weekend

13. Selalu cuci tangan saat sampai kantor, sampai ke rumah, sebelum makan, dan setelah beraktivitas di luar ruangan. Bawa hand sanitizer, in case of nggak ada decent sink untuk cuci tangan

14. Pakai perfume biar happy karena wewangian mempengaruhi mood

15. Stay positive! Harus punya sikap bodo amat buat hal-hal yang nggak menyenangkan. Selalu bersyukur meski berada pada keadaan yang tidak diharapkan. Stay away from stress because stress creates wrinkles. ūüėČ

Perihal Bekerja

Kadang saya berpikir kenapa saya pada akhirnya kuliah di jurusan Planologi, sebuah jurusan yang kurang familiar bagi masyarakat umum, juga bagi saya sendiri ketika masih SMA. Padahal awalnya saya ingin masuk ke Desain Komunikasi Visual, kemudian pindah ke Arsitektur, ujung-ujungnya saya malah berlabuh ke Planologi. Saya beberapa kali juga mencoba peruntungan mencari pekerjaan yang agak menyeleweng dari jurusan Planologi, namun pada akhirnya kembali lagi ke industri Property yang masih punya benang merah dengan ilmu yang saya pelajari waktu kuliah. Semenjak lulus sampai sekarang, meskipun tidak pernah direncanakan sebelumnya, saya konsisten bekerja di bidang ini dan perlahan-lahan mulai mencintainya.

Di dalam doa, saya selalu meminta kepada Tuhan agar saya mampu memberikan yang terbaik untuk pekerjaan saya..

Bekerja bagi saya bukan hanya soal tanggung jawab yang perlu diselesaikan, bukan selalu tentang bagaimana mengoptimalkan potensi diri, bukan juga sekedar gaji untuk memenuhi semua kebutuhan hidup. Semua yang saya sebutkan  memang merupakan tujuan dan manfaat bekerja. Namun lebih daripada itu, bekerja memiliki esensi yang lebih dalam bagi saya, yakni melaksanakan tugas di dunia. Setiap individu diciptakan unik dan memiliki talenta masing-masing. Saya percaya kita semua diarahkan untuk menjalani suatu jalur tertentu sesuai dengan bakat dan talenta kita agar memiliki peran yang bermanfaat di dunia. Mungkin Tuhan telah menggariskan di bidang ini lah saya memiliki peran di dunia. Untuk itu, tidak ada hal lain yang saya bisa lakukan selain mencintai pekerjaan ini dan berusaha melakukan yang terbaik. Terbaik bukan hanya untuk orang lain yang bersentuhan dengan pekerjaan saya, tapi juga untuk saya sendiri. Hasil pekerjaan yang terbaik selalu membuat saya puas dan bangga karena pekerjaan saya ini pada akhirnya akan bermanfaat untuk banyak orang.

Perihal Memilih Pasangan Hidup

Sebetulnya ini hanya post kurang penting yang saya buat sebelum tidur. Hitung-hitung sebagai dokumentasi dari hal yang sedang saya pikirkan di detik pergantian bulan Oktober menjadi November, jadi jika saya dari masa depan membaca post ini saya ingat bahwa pemikiran ini pernah muncul sambil menghantar saya tidur.

Umur 24 tahun dan masih single mau tidak mau membuat banyak orang melontarkan pertanyaan, “kapan married?”. Tidak¬†bisa disalahkan karena begitu lah karakter orang Indonesia yang selalu senang ketika tahu perkembangan hidup orang lain. Saya sendiri juga selalu penasaran dengan perkembangan hidup orang lain yang saya kenal. Toh, kalau orang lain bahagia saya juga ikut senang. Tapi jujur saja, untuk semua pertanyaan itu,¬†saya merasa masih muda untuk diburu-buru menikah. Justru belum menikah itu menjadi privilege bagi saya untuk sebebas-bebasnya mengejar impian lain, mumpung badan masih kuat, jiwa masih bersemangat, dan belum ada anggota keluarga yang secara ekonomi menjadi tanggungan. Intinya sebenarnya ¬†saya sih santai saja.

Banyak orang yang bilang saya terlalu ‘picky’, tapi menurut saya nggak juga. Prinsip saya, daripada memaksakan dengan orang yang salah lebih baik menunggu seseorang yang tepat meskipun itu membutuhkan sedikit lebih banyak waktu dan kesabaran. Bagaimana pun juga memilih pasangan hidup itu bukan hal yang sederhana. Memilih pasangan bisnis saja nggak bisa sembarangan, apalagi memilih pasangan hidup. Aspek hidup jauh lebih kompleks dibanding bisnis. Salah memilih pasangan bisnis, dampak terburuknya paling-paling kehilangan uang. Salah memilih pasangan hidup, dampaknya kehilangan uang, kehilangan aset, kehilangan hak asuh, kehilangan teman yang mendampingi hidup, kehilangan kebahagiaan, pada akhirnya kehilangan hidup itu sendiri. Frustasi. ¬†Makanya, menurut saya memilih pasangan¬†hidup tidak¬†bisa sembarangan. Cuma karena ada yang mau sama saya, saya lagi kosong, lalu saya iyakan saja. Bagi saya, masa-masa itu sudah lewat 2-3 tahun yang lalu..

Pasangan hidup yang saya cari adalah orang yang bersama saya bisa membentuk suatu tim yang solid. Banyak orang, terutama perempuan, seakan menganggap pernikahan itu adalah pintu gerbang untuk kebahagiaan yang absolut. Kenyataannya,  persoalan hidup tidak serta merta berakhir hanya karena menikah. Sebut saja permasalahan dalam mengurus anak -anak, pusing mengatur prioritasi keuangan, belum lagi berbagai keluh kesah tentang pekerjaan yang sudah ada bahkan ketika belum menikah, dan banyak lagi. Pasangan hidup yang tepat menurut saya adalah orang yang bersama saya dapat berbagi visi yang sama tentang kehidupan. Saya membayangkan sebuah keadaan di mana saya dan dia punya rencana-rencana  dan mimpi bersama yang ingin diwujudkan satu per satu. Untuk itu, dia diciptakan sebagai sosok yang tidak sempurna namun bisa mengisi kekurangan saya, juga dengan agresivitasnya mampu memimpin dan memberi arahan ke mana kita akan melangkah selanjutnya. Sebaliknya, saya pun dapat dengan ikhlas mendampingi dia untuk mencapai mimpi-mimpinya sambil sesekali memarahi kalau tindakan sudah menjauh dari tujuan. Dia adalah planner, sedangkan saya controller. Dia adalah seorang pemikir yang logikal, dia yang merancang konsep, sementara saya patuh terhadap rencananya dan menjaga agar semua terlaksana dengan benar. Di sela-sela hal itu, pasti lah tidak semua berjalan mulus begitu saja, namun di dalam kondisi apapun satu sama lain berbagi rasa yang sama tentang pentingnya saling memiliki dan menjaga satu sama lain.

Jujur, saya belum menemukan sosok yang saya yakini mampu untuk bersama saya menjadi suatu tim yang solid. Bukan saya mencari kesempurnaan, saya mengerti tidak ada orang yang sempurna. Namun, tidak ada yang lebih indah dibanding secara tulus mencintai ketidaksempurnaan. Dan bolehkah saya merasakan itu sekali lagi, untuk orang terakhir yang akan menemani saya sepanjang hari sampai akhir hidup saya?  Saya pun tidak ingin melihat satu atau dua hati patah lagi. Maka, daripada memaksakan dengan orang yang salah lebih baik menunggu seseorang yang tepat meskipun itu membutuhkan sedikit lebih banyak waktu dan kesabaran.

Saya percaya wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaliknya. Jadi dalam masa-masa menjadi single ini, daripada saya pusing mencari ke sana kemari, sebaiknya saya memantaskan diri untuk menjadi orang yang punya kulitas-kualitas terbaik dalam hidupnya. Hanya Tuhan yang paling mengerti bagaimana memasangkan individu baik dengan individu baik. Jika memang waktunya belum tiba, bukan berarti kita yang kurang baik tapi siapa tahu Tuhan sedang menempa calon pasangan hidup untuk memiliki kualitas yang setara dengan kita. Bisa juga sebaliknya. Jadi, stay positive and happy.. Tuhan memberkati semua usaha kita.

Favorite Quote

I believe in pink. I believe that laughing is the best calorie burner.
I believe in kissing, kissing a lot.
I believe in being strong when everything seems to be going wrong.
I believe that happy girls are the prettiest girls.
I believe that tomorrow is another day and I believe in miracles.
(Audrey Hepburn)

Everybody Knows I’m Not a Princess

Oh, I wish!
I wish I wish I wish..
I could be a girl like that.
A classy girl, a girl who has manner of princess.
A girl who sits quietly, thinks thoughtfully, talks calmly, behaves politely.
A girl who can keep secret only for herself, so that people  are curious about that mysterious girl in a corner

Unfortunately, it’s hard for me to change to be somebody like that.
The more I tried to change, the more I found myself lying to the real person inside of me.

Otherwise,
I am a frank speaker.
I have no hesitation to talk about anything, everything inside of my head without being shy or worry that somebody will hate me.
As long as I tell the truth.
I may be good at spreading gossip. Oh no, it’s not gossip, instead of¬†truth.
Well, maybe not everybody can accept the truth.. but truth is always be the truth. Acceptable or not.
I talk loudly, not because I am desperate of attention. I am just excited with the conversation.
I don’t care if some people don’t like my humor, I know some others like.

I am a girl who act spontaneously.
Sometimes accepting challenge without knowing the consequences.
Sometimes being impatience because I like things to get done quickly.
I walk here and there, run here and there, be in a rush so often.
I don’t care if people think I am manner-less, as long as I know I am not hurting anyone.

I know the whole world prefer a girl who act classy like princess, but why should I change myself if changing  is equal to lie to the real person inside of me?

I am who I am, I’m not planning to change myself, or more severely, being fake to be somebody I am not.

 

Terlalu Banyak Berpikir

Terlalu banyak  berpikir menghadapkan kita pada berbagai probabilitas,
yang membutuhkan opsi pemecahan.
Dari situ opsinya perlu dipikirkan kembali. Panjang.
Membuat yang sudah dipikirkan menjadi dipikirkan lagi.
Berulang-ulang.
Terlalu berpikir membuat saya jadi pusing.

That’s why I just wanna¬†have a simple mind.

Maksudnya, berpikir sederhana saja.
Tidak terlalu banyak ekspektasi.
Tidak terlalu khawatir.
Berserah, tapi tetap berusaha.
Ikhlas dengan segala kemungkinan.
Sehingga bersyukur menjadi sesuatu yang lebih mudah dilakukan,
dan bahagia menjadi suatu kondisi yang pencapaiannya sederhana saja.